Minggu, 29 April 2012
PUISI TAUHID (Ya..ALLAH, mengapa aku harus dilahirkan di dunia ini ? )
Ya..ALLAH, mengapa aku harus dilahirkan di dunia ini ?
tapi mengapa Engkau berikan padaku kehidupan yang keras
sehingga aku merasa terhimpit dan tertindih sesak nafasku,
sedih hatiku, berat langkahku untuk mengarungi kehidupan yang kejam ini
ALLAH menjawab :
Hamba_KU sayang, jangan pernah engkau takut menghadapi hidup ini
karena AKU tidak pernah meninggalkanmu walau sedetik jarak antara kau dan
Aku tidak lebih jauh dari pada urat lehermu dan Aku tidak mungkin memberikan
cobaan di luar batas kemampuanmu…
Bukankah sudah pernah KUkatakan padamu:
Aku berlindung kepada ALLAH dari godaan syetan yang terkutuk-
Bukankah Kami telah melapangkan dadamu [Muhammad]…
dan Kami meringankan bebanmu yang berat…yang memberatkan punggungmu…
Dan Kami tinggikan namamu…
Maka sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan…
sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan…
Maka apabila engkau telah selesai [dari suatu urusan]
maka kerjakanlah [urusan yang lain] dengan sungguh-sungguh
dan hanya kepada Tuhanmu hendaklah engkau berharap…
kemudian aku menjadi ingat
Ya ALLAH, bahwa sepanjang hidupku aku telah mendzalimi diriku sendiri,
dengan cara melalaikan kewajiban yang Engkau gariskan dan melanggar
larangan yang Engkau tetapkan.…
ku telantarkan diriku dalam keterasingan, ku tak perdulikan setiap nafasku,
tak kuhitung detak jantungku sudahkah ku kenal RABB yang menciptakanku…
aku terbelalak melihat gemerlap dunia……kemudian kukejar ilmu, jabatan dan harta
tanpa ingat mempersiapkan bekal untuk pergi kealam abadi ku kelak,
alam yang pasti aku datangi, ku bertepuk dada pada sukses hidupku,
jabatan, harta serta anak istriku/suamiku, padahal semua itu hanya sekedar titipan belaka,
tidak ku untai talikasih terpaut kerinduan dengan sahabat terdekatku…
akankah aku merindu atau aku berteriak karena kekufuranku akan nikmat_MU…
Allah menjawab…
Bukankah telah KU turunkan pintu Tauhiid?
ALLAH pun Berfirman…
Katakanlah, jika kamu [benar-benar] mencintai ALLAH, maka ikutilah aku,
niscaya ALLAH mengasihi kamu dan mengampuni dosa-dosamu,
ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imron:31]
Kemudian ALLAH SWT menambahkan…
Bukankah telah KU turunkan Al-Qur’an Al-Karim sebagai pedoman hidupmu…
bukankah telah KU berikan contoh bagi hidupmu yaitu Rasul dan Nabi_KU…
telah KU ciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya bagimu…
telah Ku tebarkan Nur Illahi Ku keseluruh penjuru…
Rahmat dan Hidayah senantiasa KUtiupkan hingga rahmatan lil ‘alamiin…
maka nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?
…isi hatiku kembali bertutur…
Rabb…ku akui sesungguhnya kelalaian dan kelemahanku
adalah benar tetapi aku khilaf…
Ya Rabb…terlalu…terlalu banyak kekhilafanku…malu aku kepada_MU …
ALLAH kembali menjawab…
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan
selain ALLAH. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai ALLAH.
Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada ALLAH.
Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui
ketika mereka melihat siksa [pada hari kiamat]. Bahwa kekuatan itu kepunyaan
ALLAH semuanya, dan bahwa ALLAH sangat berat siksaan_NYA [niscaya mereka menyesal] [Al-Baqarah:165]
…Kemudian isi hatiku bermunajat…
Duhai Rabb Yang menggenggam setiap karunia…
Karuniakanlah kepada kami kenikmatan bermunajat kepada_MU…
hidup dan matiku keserahkan sepenuhnya pada_MU…
Do’aku kini senantiasa dalam Ijabah_MU…
Duhai Rabb Yang Maha Menatap setiap lubukhati hamba-hamba_MU…
Karuniakan kepada kami hati ikhlas dan bersih
dari setiap noktah hitam yang melekat…taburkan kepada kami cahaya
Ilmu dan Ridho_MU…
Duhai Rabb Yang Maha Menyaksikan
sekecil apapun setiap ‘aib yang kami rahasiakan…
Kami sadar mata yang KAU titipkan adalah hanya untuk menyaksikan setiap kebesaran_MU…
lidah yang KAU titipkan adalah lidah yang harus basah berdzikir menyebut asma_MU…
telinga yang KAU titipkan adalah hanya untuk mendengarkan setiap adzan dan
ayat suci_MU yang dikumandangkan…
kaki yang KAU ciptakan adalah hanya untuk melangkah menuju masjid dan kiblat_MU……
Pantaskah hamba menuju syurga_MU…padahal amanah_MU belum hamba lakukan…
karena kedha’ifanku…
Selasa, 17 April 2012
" Sajadah dan Tasbih Cinta..."
Letih ketika kaki ini melangkah...
Terasa ditelapak bercak-bercak darah...
Mengikuti jalanan yang terkadang salah arah...
Memaksa kembali air mata ini tumpah diatas sajadah...
Tuhan...
Masihkan raga yang kotor ini layak bersimpuh dihadapan-Mu...
Memohon dengan penuh harap akan segala salah dan khilaf...
Tuhan...
Putus asa terkadang datang merayap dipuncak senyap...
Kala diri teringat akan kesalahan dan dosa yang selalu setia datang dan hinggap...
Jasad yang letih dan ringkih selalu mencoba berjalan meski tertatih...
Menapakan kaki meski ditemani noda darah dalam lelah...
Aahh...kenapa dosa ini selalu bertambah...
Kenapa tak bosan dan lelah setan datang dan menjamah...
Memaksa hatiku gundah...
Ketika ingin kulihat Tuhanku...
Layakkah jasad yang kotor ini berharap bertemu dengan-Mu...
Ketika ingin ku dekati Kekasihku...
Pantaskah raga yang hina ini berharap melihat wajah agung-Mu...
Mulutku senantiasa bertasbih memuji kebesaran nama-Mu...
Tapi dengan mulutku pula kutoreh dosa dalam hidupku...
Tanganku senantiasa berdzikir memutari tasbih mengharap ampunan-Mu
Tapi dengan tangan ini pula kubuat dosa-dosa dalam hari-hariku...
Dengan sekeping hatiku ini aku belajar setia dan sempurna untuk mencintai-Mu...
Tapi dalam hati ini pula terselip cinta selain kepada-Mu...
Lalu bagaimana aku bisa melihat wajah-Mu...
Dengan bekal apa aku bisa menemui-Mu...
Bagaimana langkah ini akan sampai kepada surga-Mu..
Sementara cinta kepada-Mu telah kunodai dengan cinta kepada kesenangan dunia yang palsu...
Tak sanggup wajahku melihat langit-Mu...
Terpekur tenggelam dalam penyesalan...
Bersujud
Bersimpuh
Menangis
Terisak
Airmata keluar...
Banjir
Bersimbah
Basah
Diatas sajadah...
Gerak jarum jam tak bisa kuhenti...
Hari-Mu terus merangkak pergi...
Meninggalkan diri yang terus terkungkung dalam sunyi...
Setia mencoba kembali membunyikan dawai cinta dalam hati
Peluh basah tak diambil peduli...
Airmata bersimbah setia menemani...
Agar dentingan dawai hati ini terdengar kembali...
Bersama aliran darah demi mengharap cinta-Mu Ya Illahi Rabbi...
Merdu...
Syahdu...
Membiru...
Menyusup pelan memenuhi kalbu...
Memaksa tulang dalam raga ini merinding...
Menggigil...
Merintih...
Dalam tangis...
Luruh dalam kelu...
Tuhan...
Sungguh aku rindu dengan cinta-Mu...
Tuhan...
Sungguh aku mengharap ampunan-Mu...
Tuhan...
Sungguh aku ingin merasakan dekapan-Mu...
Meski kata mungkin masih jauh dari raga kotorku...
Tuhan...
Aku ingin bisa melihat-Mu...
Tuhan...
Aku ingin merasakan indahnya surga-Mu...
Meski kata jauh masih berlabuh dari jasad yang hina ini...
Tuhan...Aku ingin merasakan dekapan rahmat-Mu...
Tuhan...
Aku ingin selalu dalam limpahan rahmat-Mu...
Meski noda dan dosa selalu mengotori hariku...
Kembali kuajak raga ini...
Tertunduk...
Terpekur...
Tenggelam...
Dalam simpuh dan sujud...berharap cinta dan ampunan-Nya...
Di atas sajadah cinta...
Ditemani butiran tasbih...
Saksi atas segala tangis akan dosa dan noda...
Terasa ditelapak bercak-bercak darah...
Mengikuti jalanan yang terkadang salah arah...
Memaksa kembali air mata ini tumpah diatas sajadah...
Tuhan...
Masihkan raga yang kotor ini layak bersimpuh dihadapan-Mu...
Memohon dengan penuh harap akan segala salah dan khilaf...
Tuhan...
Putus asa terkadang datang merayap dipuncak senyap...
Kala diri teringat akan kesalahan dan dosa yang selalu setia datang dan hinggap...
Jasad yang letih dan ringkih selalu mencoba berjalan meski tertatih...
Menapakan kaki meski ditemani noda darah dalam lelah...
Aahh...kenapa dosa ini selalu bertambah...
Kenapa tak bosan dan lelah setan datang dan menjamah...
Memaksa hatiku gundah...
Ketika ingin kulihat Tuhanku...
Layakkah jasad yang kotor ini berharap bertemu dengan-Mu...
Ketika ingin ku dekati Kekasihku...
Pantaskah raga yang hina ini berharap melihat wajah agung-Mu...
Mulutku senantiasa bertasbih memuji kebesaran nama-Mu...
Tapi dengan mulutku pula kutoreh dosa dalam hidupku...
Tanganku senantiasa berdzikir memutari tasbih mengharap ampunan-Mu
Tapi dengan tangan ini pula kubuat dosa-dosa dalam hari-hariku...
Dengan sekeping hatiku ini aku belajar setia dan sempurna untuk mencintai-Mu...
Tapi dalam hati ini pula terselip cinta selain kepada-Mu...
Lalu bagaimana aku bisa melihat wajah-Mu...
Dengan bekal apa aku bisa menemui-Mu...
Bagaimana langkah ini akan sampai kepada surga-Mu..
Sementara cinta kepada-Mu telah kunodai dengan cinta kepada kesenangan dunia yang palsu...
Tak sanggup wajahku melihat langit-Mu...
Terpekur tenggelam dalam penyesalan...
Bersujud
Bersimpuh
Menangis
Terisak
Airmata keluar...
Banjir
Bersimbah
Basah
Diatas sajadah...
Gerak jarum jam tak bisa kuhenti...
Hari-Mu terus merangkak pergi...
Meninggalkan diri yang terus terkungkung dalam sunyi...
Setia mencoba kembali membunyikan dawai cinta dalam hati
Peluh basah tak diambil peduli...
Airmata bersimbah setia menemani...
Agar dentingan dawai hati ini terdengar kembali...
Bersama aliran darah demi mengharap cinta-Mu Ya Illahi Rabbi...
Merdu...
Syahdu...
Membiru...
Menyusup pelan memenuhi kalbu...
Memaksa tulang dalam raga ini merinding...
Menggigil...
Merintih...
Dalam tangis...
Luruh dalam kelu...
Tuhan...
Sungguh aku rindu dengan cinta-Mu...
Tuhan...
Sungguh aku mengharap ampunan-Mu...
Tuhan...
Sungguh aku ingin merasakan dekapan-Mu...
Meski kata mungkin masih jauh dari raga kotorku...
Tuhan...
Aku ingin bisa melihat-Mu...
Tuhan...
Aku ingin merasakan indahnya surga-Mu...
Meski kata jauh masih berlabuh dari jasad yang hina ini...
Tuhan...Aku ingin merasakan dekapan rahmat-Mu...
Tuhan...
Aku ingin selalu dalam limpahan rahmat-Mu...
Meski noda dan dosa selalu mengotori hariku...
Kembali kuajak raga ini...
Tertunduk...
Terpekur...
Tenggelam...
Dalam simpuh dan sujud...berharap cinta dan ampunan-Nya...
Di atas sajadah cinta...
Ditemani butiran tasbih...
Saksi atas segala tangis akan dosa dan noda...
Secoret dari Hati untuk Hati
Ku coba menjadi muslimah yang tegar,
Ketika 1000 kesedihan datang menghampiriku,
Ku yakin Allah punya 1001 jawaban atas kesedihanku ini..
Ku coba menjadi muslimah yang kuat,
Ketika 1000 macam godaan disekitarku berdatangan,
Ku yakin Allah punya 1001 jawaban atas godaanku ini..
Ku coba menjadi muslimah yang tangguh,
Ketika 1000 masalah datang kepadaku,
Ku yakin Allah punya 1001 jawaban atas setiap permasalahanku ini..
Aku bukan muslimah yang baik,
Ketika muslimah yang lain sibuk berjihad di jalan-Nya,
Aku dengan santainya mengurusi masalah asmaraku yang kian menggebu di hati..
Aku bukan muslimah yang baik,
Ketika banyak muslimah yang sibuk menutup auratnya,
Aku malah sibuk dengan tampilan yang kurasa sangat ketinggalan jaman,
Padahal tanpa sadar aku telah mengikuti cara berpakaian budaya asing yang sungguh Allah murka atas itu
Aku bukan muslimah yang baik,
Ketika para muslimah sibuk dengan ketawadhu’an mereka.
Aku malah sibuk mengurusi urusan orang lain,
Berbicara kesana kemari, seperti para reporter yang sibuk mencari berita.
Padahal... tanpa sadar aku telah berbuat ghibah ya Allah :’(
Astaghfirullah.
..
Astaghfirullah...
Astaghfirullah...
Ya Allah,
Ampuni aku ya Allah..
Tanpa sadar diri ini selalu menjauh dari-Mu
Padahal kasih-Mu itu luas tak terkira...
Disaat aku mulai menjauh drii-Mu,
Aku lupa pada-Mu,
Aku mengabaikan-Mu,
Tapi...
Engkau tetap setia dan tak pernah lupa denganku..
Ketika 1000 kesedihan datang menghampiriku,
Ku yakin Allah punya 1001 jawaban atas kesedihanku ini..
Ku coba menjadi muslimah yang kuat,
Ketika 1000 macam godaan disekitarku berdatangan,
Ku yakin Allah punya 1001 jawaban atas godaanku ini..
Ku coba menjadi muslimah yang tangguh,
Ketika 1000 masalah datang kepadaku,
Ku yakin Allah punya 1001 jawaban atas setiap permasalahanku ini..
Aku bukan muslimah yang baik,
Ketika muslimah yang lain sibuk berjihad di jalan-Nya,
Aku dengan santainya mengurusi masalah asmaraku yang kian menggebu di hati..
Aku bukan muslimah yang baik,
Ketika banyak muslimah yang sibuk menutup auratnya,
Aku malah sibuk dengan tampilan yang kurasa sangat ketinggalan jaman,
Padahal tanpa sadar aku telah mengikuti cara berpakaian budaya asing yang sungguh Allah murka atas itu
Aku bukan muslimah yang baik,
Ketika para muslimah sibuk dengan ketawadhu’an mereka.
Aku malah sibuk mengurusi urusan orang lain,
Berbicara kesana kemari, seperti para reporter yang sibuk mencari berita.
Padahal... tanpa sadar aku telah berbuat ghibah ya Allah :’(
Astaghfirullah.
..
Astaghfirullah...
Astaghfirullah...
Ya Allah,
Ampuni aku ya Allah..
Tanpa sadar diri ini selalu menjauh dari-Mu
Padahal kasih-Mu itu luas tak terkira...
Disaat aku mulai menjauh drii-Mu,
Aku lupa pada-Mu,
Aku mengabaikan-Mu,
Tapi...
Engkau tetap setia dan tak pernah lupa denganku..
Rabu, 11 April 2012
Sinopsis Novel "Bumi Cinta" Karya Habiburrahman El Shirazy
Saat
itu Moskwa sedang musim dingin. Butiran-butiran salju berjatuhan dari
langit Moskwa. Salju yang turun perlahan dan dingin membalut tulang
tidak menghalangi arus lalu lalang orang-orang di bandara Sheremetyevo.
Dua orang pemuda berwajah Asia Tenggara terlihat saling bercengkrama
satu sama lain, mereka sudah sembilan tahun tidak bertemu. Yang baru
keluar dari bandara itu bernama Muhammad Ayyas, dan temannya yang telah
lama tinggal di Rusia bernama Devid. Tidak lama kemudian mereka bergegas
menaiki taksi dan melaju ke sebuah apartemen yang telah disewakan oleh
Devid untuk Ayyas selama melakukan penelitian terhadap sejarah Rusia
dalam beberapa bulan kedepan.
Tanpa Ayyas duga sebelumnya, ia satu apartemen dengan dua orang nonik
Rusia yang berparas sangat cantik. Padahal sejak dari kecil Ayyas tidak
biasa dengan hal semacam itu, ia lemah terhadap perempuan cantik. Ia
sangat taat beragama dan ia takut imannya akan runtuk bila tinggal
bersama mereka. Namun menurut Devid, itulah yang terbaik untuk dirinya.
Sejak saat itu lah, perjalanan hidup Ayyas dipenuhi dengan godaan. Belum
lagi, asisten professor yang berparas sangat menawan yang membimbingnya
dalam membuat tesis tersebut selalu menari di pelupuk matanya. Ayyas
merasa ujian ini sangat berat.
Setelah cukup lama tinggal satu apartemen dengan dua orang nonik Rusia,
Ayyas sangat terkejut, karena ternyata kedua orang itu bukanlah orang
baik-baik. Seorang gadis bernama Linor, kepergok sedang melakukan
perzinaan di ruang tamu apartemen bersama seorang anggota mafia Rusia.
Bahkan mafia itu terang-terangan mengajak Ayyas untuk berzina bersama
mereka. Namun Ayyas langsung masuk kamar dan menyalakan laptopnya serta
memutarkan lantunan ayat suci Al Quran secara keras. Karena merasa
terusik, mafia tersebut memaki Ayyas dan akhirnya perkelahian tidak bisa
terelakkan. Akhirnya mafia tersebut kalah dan meninggal. Tidak hanya
itu, ternyata Linor adalah seorang Zionis Israel yang sangat membenci
Islam. Tidak berapa lama setelah itu, Ayyas mengetahui bahwa teman
apartemen yang satu lagi yang bernama Yelena, ternyata adalah seorang
pelacur kelas kakap di Moskwa, dan Yelena adalah seorang yang tidak
percaya akan adanya Tuhan.
Sejak
saat itu, Ayyas sering dihampiri oleh masalah. Linor sangat membenci
Ayyas. Dengan berbagai cara ia berusaha menjebak Ayyas. Mulai dari
berpakaian sangat tidak wajar di depan Ayyas, masuk ke kamar Ayyas
secara diam-diam, bahkan menjebak Ayyas agar menjadi tersangka utama
peledakan hotel. Namun kesemua itu tidak berhasil meruntuhkan kokohnya
benteng keimanan Ayyas. Dan pada Akhirnya, Linor menemukan kenyataan
bahwa sesungguhnya ia hanya anak angkat. Setelah diselidiki, ternyata ia
adalah keturunan muslim Palestina. Ia sangat terpukul mengetahui hal
itu, karena selama ini ia sangat bangga bahwa ia merupakan keturunan
Yahudi. Namun kenyataannya, orang tua aslinya adalah dari golongan agama
yang selama ini ia sebut sebagai agama primitif.
Pada
akhirnya, ia memutuskan untuk mempelajari dan mendalami Islam. Dan
akhirnya ia pun memeluk islam. Suatu saat ia bermimpi bertemu dengan ibu
kandungnya. Dalam mimpi itu ibunya berpesan agar ia mencari seseorang
yang seperti Nabi Yusuf. Setelah ia mencari tahu cerita Nabi Yusuf, ia
pun langsung teringat kepada Ayyas, pemuda yang selama ini ia benci
karena memeluk Islam, dan pernah ia jebak agar bisa berzina bersamanya
tetapi ditolak mentah-mentah. Ia merasa bahwa Ayyas sangat mirif
sifatnya dengan nabi Yusuf. Ia pun mencari Ayyas dengan maksud
menanyakan apakah Ayyas mau menjadikannya istri. Linor berangkat menemui
Ayyas dengan berpakaian muslimah. Ayyas sampai tidak mengenalnya.
Setelah ia menerangkan bahwa ia adalah Linor, Ayyas terkejut dan sangat
bersukur karena Linor telah Tobat. Linor menceritakan semua kejahatan
yang telah ia lakukan selama ini kepada Ayyas. Ayyas sempat mau marah,
namun ia sadar bahwa tidak ada gunannya marah, karena Linor telah tobat.
Linor pun menyampaikan maksud kedatangannya. Ayyas belum bisa menjawab
saat itu.
Sementara
Yelena, disiksa oleh pelanggannya dan di buang di lapangan terbuka saat
salju turun dengan lebatnya. Yelena yang tidak percaya Tuhan, secara
tidak sadar meminta pertolongan kepada Tuhan. Setelah itu ada pemuda
yang bersedia menolongnya setelah beberapa orang dimintai pertolongan
oleh seorang ibu yang menemukan Yelena, tidak bersedia membantu. Pemuda
itu tidak lain adalah Ayyas yang kebetulan lewat di sana. Akhirnya
Yelena dilarikan ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa kalau terlambat
sedikit saja dibawa ke rumah sakit, maka Yelena tidak akan tertolong.
Sejak saat itu, Yelena sangat berterimakasih kepada Ayyas. Bahkan ia
mulai mempercayai Tuhan. Kepercayaan dirinya bahwa Tuhan benar-benar ada
semakin mantap setelah menyaksikan dan mendengar seminar tentang
ketuhanan yang diisi oleh cendekia-cendekia Rusia, termasuk Ayyas salah
satunya.
Tidak
lama setelah itu, Devid yang selama di Rusia menganut gaya hidup bebas,
merasa tidak tahan lagi. Ia ingin segera menikah. Ia sempat ingin
dinikahkan dengan adik seorang ustad. Tapi ia merasa tidak pantas. Lalu
ia minta tolong Ayyas mencarikan calon istri untuknya. Ayyas
menyarankannya dengan Yelena. Akhirnya Yelena mengucap dua kalimat
sahadat dan memeluk Islam serta menikah dengan Devid. Mereka hidup
bahagia.
Sedangkan
Linor yang telah memeluk Islam dan telah bertemu Ayyas, belum
mendapatkan kepastian dari Ayyas pada saat itu. Karena Ayyas tidak
langsung memberikan jawaban, ia pun pamit dan berharap Ayyas bisa
memberikan kepastian keesokan harinya. Saat Linor sudah berada di
halaman depan rumah, Ayyas berubah pikiran. Ia akan langsung menerima
dan menyanggupi untuk menjadi suami Linor. Namun Linor sudah terlalu
jauh. Ayyas langsung bergegas ke jendela untuk meneriakkan bahwa ia
sanggup. Tapi Linor sudah terlihat sangat jauh. Dan di belakang linor,
Ayyas melihat ada sebuah mobil hitam yang dikendarai melaju ke arahnya.
Ayyas melihat orang dalam mobil tersebut memegang senjata api. Ayyas
berteriak memperingatkan Linor. Namun terlambat, Doooorrrrr…. Linor pun
roboh saat itu juga. Ternyata orang tersebut menembak Linor. Ayyas
langsung terkulai lemas tak berdaya menyaksikan linor yang telah jatuh
bersimbah darah. Ia pun mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa dan
kemudian berlari ke arah Linor yang telah terkapar. Ia mengangkat Linor
ke pangkuannya. Linor bersimbah darah. Ia langsung meminta bantuan untuk
membawa Linor ke rumah sakit.
Tidak
lama kemudian ada seorang ibu yang mengendarai mobil di dekat sana.
Ayyas meminta bantuan kepada ibu tersebut, dan mobil tersebut langsung
melaju ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama
kepada Linor yang tertembak. Ayyas sangat menyesal, mengapa ia tidak
langsung menjawab permintaan dari Linor tadi. Dengan penuh penyesalan,
Ayyas menangis terisak. Isakan yang kalau siapa saja melihat dan
mendengarnya pasti akan tersayat hatinya. Isakan seorang pencinta
sejati, yang mencintai kekasihnya karena Allah, lalu kehilangan
kekasihnya karena Allah pula.
Jumat, 06 April 2012
Jarak ini menjaga aku dan dia
Semua insan dalam dunia ini pasti pernah merasai perasaan itu. Perasaan
yang tidak asing lagi dalam jiwa kita sebagai manusia. Perasaan yang
kadangkala hadirnya tanpa kita duga atau kita paksa.
Memang sudah menjadi fitrah kita sebagai manusia untuk merasai perasaan itu. Cuma mungkin bagaimana perasaan itu hadir dalam diri kita berbeda bagi setiap individu.
Dalam diam, perasaan itu hadir di hatiku
Seperti insan lain, aku jua merasai perasaan itu. Perasaan yang bukan baru semalam berputik, tetapi telah aku pendam. Aku sering tertanya-tanya salahkah untuk aku mempunyai perasaan yang bukan aku reka atau cipta, perasaan yang hadirnya tak pernah aku paksa, perasaan yang tak berubah sedikit pun walau banyak dugaan menimpa. Namun dalam aku melangkah menyusuri perasaan itu, aku sering dilanda rasa khuatir. Aku khuatir andainya rasa cinta ini melebihi rasa cintaku pada-Nya. Aku khuatir andai rindu yang aku pendam melebihi rinduku pada-Nya. Diri ku dan dia diikat dengan satu ikatan di dalam hati. Ikatan yang tak perlu aku dan dia lafaz melalui bicara kata.
Cukuplah rasa ini aku pendam dan dia juga memendam rasa yang sama. Jasad aku dan dia beribu batu terpisah. Hati aku dan dia juga beribu batu menjauh. Kini, wajahnya pun mungkin telah menjadi samar-samar di ingatanku. Suaranya seperti ku ingat-ingat lupa di telingaku. Rinduku padanya yang tidak menentu telah menjadi rindu yang ada hala tuju.
Jarak ini menjaga aku dan dia
Kini aku semakin mengerti, 'JARAK' ini bukan untuk menghukumku. Tetapi 'JARAK' ini untuk menjaga aku dan dia. Dengan 'JARAK' ini aku dan dia berusaha untuk berubah menjadi yang lebih baik. Dengan JARAK ini aku dan dia berusaha untuk memperbaiki cinta kepada Illahi.Dengan jarak ini aku dan dia berusaha untuk mencintai Pencipta kami lebih dari segalanya. Dengan JARAK ini aku dan dia berusaha untuk mendalami Islam hingga ke akar umbi. Dan Dengan JARAK ini jua aku dan dia yakin andai tiba saatnya nanti, aku dan dia akan lebih bersedia untuk melayari semua ini dengan jalan yang diridhai.
Terima kasih Ya Allah karena memberi peluang kepadaku melalui jalan-Mu ini. Terima kasih karena memberikan JARAK itu kepada aku dan dia.
Aku sadar, aku insan yang masih rapuh. Kadangkala hatiku goyah melihat keadaan sekeliling yang menekanku. Jika tidak karena JARAK ini,mungkin aku akan mencari berbagai alasan untuk bersama dia. Iman ku akan goyah saat terpandang wajahnya. Hatiku akan bertambah rindu saat mendengar suaranya. Moga hidayah yang diberi ini akan terus menjaga hatiku. Aku yakin semua ini rencana Mu Ya Allah. Moga di akhir JARAK ini, Kau memberi kesudahan yang baik untuk aku dan dia...........................
Memang sudah menjadi fitrah kita sebagai manusia untuk merasai perasaan itu. Cuma mungkin bagaimana perasaan itu hadir dalam diri kita berbeda bagi setiap individu.
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia
kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak,
harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga)."
[Ali 'Imran, 3:14]
[Ali 'Imran, 3:14]
Dalam diam, perasaan itu hadir di hatiku
Seperti insan lain, aku jua merasai perasaan itu. Perasaan yang bukan baru semalam berputik, tetapi telah aku pendam. Aku sering tertanya-tanya salahkah untuk aku mempunyai perasaan yang bukan aku reka atau cipta, perasaan yang hadirnya tak pernah aku paksa, perasaan yang tak berubah sedikit pun walau banyak dugaan menimpa. Namun dalam aku melangkah menyusuri perasaan itu, aku sering dilanda rasa khuatir. Aku khuatir andainya rasa cinta ini melebihi rasa cintaku pada-Nya. Aku khuatir andai rindu yang aku pendam melebihi rinduku pada-Nya. Diri ku dan dia diikat dengan satu ikatan di dalam hati. Ikatan yang tak perlu aku dan dia lafaz melalui bicara kata.
Cukuplah rasa ini aku pendam dan dia juga memendam rasa yang sama. Jasad aku dan dia beribu batu terpisah. Hati aku dan dia juga beribu batu menjauh. Kini, wajahnya pun mungkin telah menjadi samar-samar di ingatanku. Suaranya seperti ku ingat-ingat lupa di telingaku. Rinduku padanya yang tidak menentu telah menjadi rindu yang ada hala tuju.
Jarak ini menjaga aku dan dia
Kini aku semakin mengerti, 'JARAK' ini bukan untuk menghukumku. Tetapi 'JARAK' ini untuk menjaga aku dan dia. Dengan 'JARAK' ini aku dan dia berusaha untuk berubah menjadi yang lebih baik. Dengan JARAK ini aku dan dia berusaha untuk memperbaiki cinta kepada Illahi.Dengan jarak ini aku dan dia berusaha untuk mencintai Pencipta kami lebih dari segalanya. Dengan JARAK ini aku dan dia berusaha untuk mendalami Islam hingga ke akar umbi. Dan Dengan JARAK ini jua aku dan dia yakin andai tiba saatnya nanti, aku dan dia akan lebih bersedia untuk melayari semua ini dengan jalan yang diridhai.
Terima kasih Ya Allah karena memberi peluang kepadaku melalui jalan-Mu ini. Terima kasih karena memberikan JARAK itu kepada aku dan dia.
"Ketahuilah hanya dengan mengingati Allah, hati akan menjadi tenang"
(Ar-Ra'd 13:28 )
(Ar-Ra'd 13:28 )
Aku sadar, aku insan yang masih rapuh. Kadangkala hatiku goyah melihat keadaan sekeliling yang menekanku. Jika tidak karena JARAK ini,mungkin aku akan mencari berbagai alasan untuk bersama dia. Iman ku akan goyah saat terpandang wajahnya. Hatiku akan bertambah rindu saat mendengar suaranya. Moga hidayah yang diberi ini akan terus menjaga hatiku. Aku yakin semua ini rencana Mu Ya Allah. Moga di akhir JARAK ini, Kau memberi kesudahan yang baik untuk aku dan dia...........................
Langganan:
Postingan (Atom)
